Skip to content
INOVATIF, PROFESSIONAL DAN BERKEPRIBADIAN
facebook
youtube
instagram
Program Studi Teknik Sipil UMA – Jurusan Teknik Sipil Terbaik di Sumut
Call Support +62 813-9775-1995
Email Support [email protected]
Location Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
Jl. PBSI No. 1 Medan Estate
  • HOME
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • VISI & MISI
  • AKADEMIK
    • INFORMASI AKADEMIK
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-LEARNING
      • JURNAL
    • JADWAL AKADEMIK
      • Jadwal Pengisian KRS
      • JADWAL KULIAH
      • Jadwal Seminar & Sidang
      • JADWAL PRAKTIKUM
      • JADWAL UJIAN
        • JADWAL UTS
        • JADWAL UAS
      • JADWAL SEMESTER ANTARA
      • JADWAL WISUDA
    • KALENDER AKADEMIK
    • KURIKULUM
    • Road Map
    • Profil Lulusan
  • AKTIVITAS PRODI
    • KEGIATAN PRODI
    • PRESTASI PRODI
  • MAHASISWA
    • BEASISWA
      • SYARAT DAN KETENTUAN PENERIMA KIP KULIAH
      • BEASISWA BANK INDONESIA (BI)
      • BEASISWA YPHAS BAGI SISWA/I BERSAUDARA KANDUNG
      • BEASISWA YPHAS BAGI SISWA/I BERPRESTASI DI SEKOLAH (RANGKING I, II, III)
      • BEASISWA PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK
    • SISTEM INFORMASI
      • DATA MAHASISWA
      • JURNAL MAHASISWA
      • AOC
      • ELEARNING
      • APIK
      • OPAC
      • UMAIL
    • PRESTASI MAHASISWA
  • DOSEN
    • PENASEHAT AKADEMIK
    • DATA DOSEN
    • PRESTASI DOSEN
    • AKTIVITAS DOSEN
    • JURNAL DOSEN
    • AOC
    • TKTD
    • ELEARNING
    • OPAC
    • UMAIL
  • ARSIP
    • Dokumen Prodi
    • PENGUMUMAN
    • SK DOSEN
    • RPS MATA KULIAH
  • ALUMNI
    • TRACER STUDY
    • DATA ALUMNI
  • LABORATORIUM
    • INFO LABORATORIUM
    • APLIKASI LABORATORIUM
  • HUBUNGI KAMI

Hirarki Pengendalian Bahaya Lengkap Menggunakan Studi Perkara

Posted on 14 October 202314 October 2023 by admin
0

Hirarki pengendalian bahaya merupakan sistem yang digunakan buat mengurangi risiko bahaya yang bisa muncul pada suatu organisasi. Ini didasarkan pada prinsip bahwa terdapat beberapa tingkatan kontrol yang dapat digunakan, mulai dari menghilangkan bahaya sampai mengurangi risiko melalui kontrol yang lebih baikHirarki Pengendalian Bahaya Lengkap

Standar OHSAS 18001 memiliki persyaratan untuk organisasi/perusahaan supaya membangun hirarki pengendalian K3. Nah, berikut ini akan dijelaskan lebih detail tentang tingkatan hirarki pengendalian bahaya lengkap dengan contoh studi kasusnya.

Hirarki Pengendalian Bahaya Dan Contoh Studi KasusnyaHirarki Pengendalian Bahaya Lengkap

Langkah-langkah dalam hirarki pengendalian bahaya meliputi:

1. Eliminasi

Satu tingkatan yang paling utama dan efisien dalam hirarki ini adalah eliminasi, yang berfokus pada menghilangkan bahaya dari sumbernya secara keseluruhan.
Eliminasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengganti bahan atau peralatan yang berbahaya dengan yang lebih aman, mengubah desain untuk menghilangkan bahaya, atau menghapus proses yang tidak diperlukan. Dalam proyek konstruksi, eliminasi dapat dilakukan dengan cara seperti :Hirarki Pengendalian Bahaya Lengkap
  • Mengganti bahan yang berbahaya dengan yang lebih aman : Dalam proyek konstruksi, bahan yang digunakan seperti asbes, formaldehida, bahan kimia yang berbahaya, dapat diganti dengan bahan yang lebih aman seperti bahan yang tidak beracun dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
  • Mengubah desain untuk menghilangkan bahaya : Dalam proyek konstruksi, desain yang digunakan dapat diubah untuk menghilangkan bahaya. Contohnya adalah desain gedung yang tidak memiliki pintu keluar yang cukup atau jalan keluar yang tidak jelas, dapat diubah untuk membuat lebih aman.
  • Menghapus proses yang tidak diperlukan : Dalam proyek konstruksi, proses yang tidak diperlukan dapat dihapus untuk menghilangkan bahaya. Contohnya adalah proses menggunakan peralatan berat yang tidak diperlukan dapat dihilangkan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.

2. Substitusi

Hirarki pengendalian bahaya berikutnya adalah substitusi, yang berfokus pada mengganti bahaya dengan sesuatu yang lebih aman.Hirarki Pengendalian Bahaya Lengkap
Substitusi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengganti bahan atau peralatan yang berbahaya dengan yang lebih aman, mengganti proses yang berbahaya dengan yang lebih aman, atau mengganti metode kerja yang berbahaya dengan yang lebih aman. Dalam proyek konstruksi, substitusi dapat dilakukan dengan cara seperti:
  • Mengganti peralatan berbahaya dengan peralatan yang lebih aman : Dalam proyek konstruksi, peralatan berbahaya seperti mesin berat yang tidak memiliki perlindungan, dapat diganti dengan peralatan yang memiliki perlindungan, seperti mesin berat yang dilengkapi dengan ROPS (Roll Over Protective Structure)
  • Mengganti proses yang berbahaya dengan proses yang lebih aman : Dalam proyek konstruksi, proses yang berbahaya seperti pengecoran yang dilakukan secara manual dapat diganti dengan proses yang lebih aman seperti pengecoran yang dilakukan dengan mesin.
  • Mengganti metode kerja yang berbahaya dengan metode kerja yang lebih aman : Dalam proyek konstruksi, metode kerja yang berbahaya seperti bekerja di ketinggian tanpa pelindung dapat diganti dengan metode kerja yang lebih aman seperti bekerja di ketinggian dengan pelindung.
Studi kasus: Sebuah proyek konstruksi bandara di Jakarta. Dalam proyek ini, tim konstruksi menemukan bahwa peralatan yang digunakan dalam proyek, seperti gergaji tangan yang tidak dilengkapi dengan perlindungan, merupakan bahaya bagi pekerja konstruksi.
Oleh karena itu, tim konstruksi mengambil tindakan substitusi dengan mengganti gergaji tangan dengan gergaji tangan yang dilengkapi dengan perlindungan. Ini membantu mengurangi risiko kecelakaan kerja dan juga meningkatkan kualitas kerja.

3. Kontrol Teknik / Perancangan

Engineering control adalah salah satu tingkatan dalam hirarki pengendalian bahaya K3 yang digunakan untuk mengurangi risiko bahaya dalam proyek konstruksi. Ini berfokus pada pengendalian risiko dengan merekayasa suatu alat atau bahan dengan tujuan mengendalikan bahayanya. Engineering control dilakukan ketika proses substitusi tidak memungkinkan dilakukan, biasanya karena terkendala dari segi biaya untuk penggantian alat dan bahan.
Contohnya, ketika di lokasi proyek konstruksi terdapat alat konstruksi berupa scaffolding yang patah atau rusak. Dalam kondisi ini, perusahaan tidak memiliki dana untuk mengganti scaffolding yang rusak. Sebagai tenaga K3, Anda dapat mengambil tindakan engineering control dengan mengelas bagian yang patah pada scaffolding tersebut. Ini akan membantu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang mungkin muncul dari scaffolding yang rusak.
4. Kontrol Administratif
Kontrol administratif merupakan salah satu tingkatan dalam hirarki pengendalian bahaya K3 yang digunakan untuk mengurangi risiko bahaya dalam pekerjaan konstruksi. Kontrol administratif berfokus pada pengendalian risiko melalui penerapan prosedur, peraturan, dan peraturan yang sesuai. Ini meliputi penerapan prosedur kerja yang aman, pelatihan keselamatan, pemantauan, dan pengelolaan alat dan bahan yang digunakan dalam proyek.Hirarki Pengendalian Bahaya Lengkap
Studi kasus: Sebuah proyek konstruksi gedung di Jakarta. Dalam proyek ini, tim konstruksi menemukan bahwa ada beberapa pekerja yang tidak memakai perlengkapan pelindung diri (PPE) yang sesuai saat bekerja di ketinggian. Sebagai bagian dari hirarki pengendalian bahaya, tim K3 mengambil tindakan kontrol administratif dengan menerapkan prosedur pemakaian PPE yang benar. Mereka juga melakukan pelatihan keselamatan bagi pekerja dan melakukan pemantauan untuk memastikan bahwa semua pekerja memakai PPE yang sesuai saat bekerja.
Ini membantu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang mungkin muncul dari tidak memakai PPE yang sesuai. Penerapan kontrol administratif dalam pekerjaan konstruksi sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pekerja. Selain itu, kontrol administratif juga membantu dalam memenuhi peraturan keselamatan yang berlaku dan meningkatkan produktivitas kerja.
5. Alat Pelindung Diri (PPE)

PPE (Perlengkapan Pelindung Diri) merupakan salah satu tingkatan dalam hirarki pengendalian bahaya K3 yang digunakan untuk mengurangi risiko bahaya dalam pekerjaan konstruksi. PPE adalah peralatan yang digunakan untuk melindungi tubuh pekerja dari bahaya yang mungkin muncul selama proses kerja. Beberapa contoh PPE yang sering digunakan dalam pekerjaan konstruksi adalah helm, masker, sarung tangan, kacamata pelindung, dan sepatu keselamatan.

Studi kasus : Sebuah proyek konstruksi gedung apartemen pada saat pembuatan besi tulangan. Dalam proyek ini, tim konstruksi menemukan bahwa ada beberapa pekerja yang tidak memakai PPE yang sesuai saat bekerja dengan mesin berbahaya seperti mesin potong besi. Sebagai bagian dari hirarki pengendalian bahaya, tim K3 mengambil tindakan dengan memberikan PPE yang sesuai bagi pekerja yang bekerja dengan mesin tersebut dan melakukan pelatihan tentang cara pemakaian PPE yang benar.

Penerapan PPE dalam pekerjaan konstruksi sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pekerja. PPE membantu dalam mengurangi risiko kecelakaan kerja yang mungkin muncul dari penggunaan mesin berbahaya. Selain itu, PPE juga membantu dalam memenuhi peraturan keselamatan yang berlaku dan meningkatkan produktivitas kerja. Namun, PPE harus digunakan dengan benar dan diganti jika sudah rusak atau kurang efektif untuk memastikan keselamatan pekerja.

Faktor Pertimbangan Dalam Penggunaan Hirarki Pengendalian Bahaya

Dalam menerapkan hirarki, terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan bahwa pengendalian risiko yang dipilih adalah yang paling efektif dan efisien.

Pertama, Anda harus mempertimbangkan biaya relatif dari setiap pilihan kontrol yang tersedia. Beberapa kontrol mungkin lebih mahal dari yang lain, namun juga dapat mengurangi risiko dengan lebih baik. Anda harus memastikan bahwa kontrol yang dipilih memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.Hirarki Pengendalian Bahaya Lengkap

Kedua, Anda harus mempertimbangkan keandalan dari setiap pilihan kontrol. Beberapa kontrol mungkin lebih andal daripada yang lain, sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kontrol yang akan digunakan.

Ketiga, perlu dipertimbangkan kebutuhan untuk kombinasi kontrol, menggabungkan unsur-unsur dari hirarki di atas (misalnya, perancangan dan kontrol administratif).

Keempat, perlu membangun praktik yang baik dalam pengendalian bahaya. Organisasi harus mampu memperhitungkan kemampuan mental dan fisik individu/pekerjanya.

Kelima, organisasi perlu memastikan bahwa teknologi terbaru dan inovatif digunakan dalam proses pengendalian bahaya.

Dengan demikian, setiap tingkatan dalam hirarki pengendalian bahaya ini memiliki tingkat efektivitas yang berbeda, dan beberapa dapat menghilangkan bahaya secara keseluruhan, sementara yang lain hanya dapat mengurangi risikonya. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi setiap tingkatan dan menentukan tingkatan kontrol yang paling sesuai untuk situasi tertentu.

Baca Juga :

Pengertian dan Definisi Volume Pekerjaan

Tags: #kampusuma, #konstruksi, #umacantik, umabestari

View this post on Instagram

Shared post on Time

BERITA
Lailan Sabrina, S.T. Raih Predikat Wisudawan Terbaik Teknik Sipil Universitas Medan Area
  Program Studi...
Hampir Separuh Mahasiswa Teknik Sipil UMA Angkatan 2022 Lulus dalam 3,5 Tahun, Bukti Budaya Akademik yang Semakin Unggul
Medan, 20 Juni...
Mahasiswa Teknik Sipil UMA Raih Medali Perunggu pada KSATRIA NUSANTARA SERIES Championships 2026
Program Studi Teknik...

Kaitan UMA

Lokasi Fakultas Teknik UMA

KAMPUS I :

Jalan Kolam No. 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
Telepon : (061) 7360168, 7366878, 7364348
Fax : (061) 7368012
Call Center : 0811-6013-888

KAMPUS II :

Jalan Sei Serayu No. 70 A / Jalan Setia Budi No. 79 B, Medan 20112
Telepon : (061) 8225602, 8201994
FAX : (061) 8226331
Call Center : 0811-6013-888

Silahkan kunjungi juga website Prodi :  
  • Teknik Elektro : elektro.uma.ac.id
  • Teknik Mesin : mesin.uma.ac.id
  • Teknik Arsitektur : arsitektur.uma.ac.id
  • Teknik Industri : industri.uma.ac.id
  • Teknik Informatika : informatika.uma.ac.id
 
Copyright © 2016 - 2026 PDAI - Universitas Medan Area