Indonesia ialah negara kepulauan yang terdiri berasal 17.000 lebih pulau. Secara geografis Indonesia terletak pada dua Benua yaitu Benua Asia serta Benua Australia dan dua samudera yaitu samudera Pasifik dan samudera Hindia. Kepulauan Indonesia pula berada pada pertemuan 3 lempeng dunia (triple junction plate), yakni lempeng Indo – Australia yg relatif bergerak ke utara, lempeng Eurasia yang cukup berkecimpung ke selatan dan lempeng Pasifik yg relatif bergerak ke barat. Hal inilah yang berakibat Indonesia memiliki taraf mala alam yang sangat tinggi, salah satunya mala gempa bumi.Analisis Kerentanan Bangunan Gedung
Kabupaten Kampar dengan luas lebih kurang 1.128.928 Ha merupakan wilayah yg terletak antara 01°00’40” Lintang Utara sampai 00°28’30” Lintang Selatan dan 100°28’30” hingga 101°14’30” Bujur Timur. wilayah ini terdiri dari 20 kecamatan serta 250 desa/kelurahan (Riau.go.id,2019). Batas-batas daerah Kabupaten Kampar adalah sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kota Pekanbaru serta Kabupaten Siak;
dua. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kuantan Singingi;
3. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Sumatera Barat, serta
4. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak.
Badan Meteorologi, Klimatologi serta Geofisika (BMKG) mencatat 2 kali gempa yang terjadi di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Gempa dengan kedalaman lebih berasal 240 kilometer tadi tak terasa sampai bagian atas sebagai akibatnya tidak berdampak sama sekali. Gempa pertama terjadi pada pukul 07.58 WIB, tepatnya di dtk keempat dengan kekuatan 3,9 SR. Lokasi gempa berada di titik koordinat 0,54 LU, 100,86 BT, Barat bahari, Kampar, dengan kedalaman 247 kilometer. Gempa ke 2 terjadi pada pukul 07.59 WIB, tepatnya pada dtk kelima, dengan kekuatan tiga,7 SR. Lokasinya berada pada titik koordinat 0,55 LU, 100,76 BT, Barat laut, Kampar. tidak selaras dengan gempa pertama, gempa ke 2 ini lebih dangkal pada kedalaman 241 kilometer (Sukandar, 2019).Analisis Kerentanan Bangunan Gedung
Korban jiwa akibat gempa umumnya tidak diakibatkan oleh gempa bumi secara eksklusif, melainkan diakibatkan oleh keruntuhan bangunan ketika gempa terjadi. Hal ini mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan bangunan yang tahan terhadap gempa. Bangunan gedung pada wilayah yangrawan gempa wajib bisa bertahan terhadap gempa agar resiko bahaya yang terjadi dapat diminimalisir. Bangunan gedung memerlukan analisis lebih lanjut berkaitan dengan ketahanannya terhadap gempa maka diperlukan suatu penilaian termin awal. Kerentanan bangunan terhadap gempa dapat dinilai menggunakan metode Rapid Visual Screening (RVS) (Adeswastoto, 2017).
Rapid Visual Screening (RVS) ialah metode pengamatan ketahanan gempa suatu bangunan menggunakan menggunakan tabel analisis khusus buat merangkum semua akibat tinjauan bangunan secara visual. Rapid Visual Screening (RVS) artinya bentuk upaya buat mengurangi resiko bencana baik melalui pembangunan fisik seperti penataan bangunan, pengaturan pembangunan, pembangunaan infrastruktur dan aplikasi infrastruktur serta non-fisik seperti penyadaran maupun kemampuan
masyarakat dalam menghadapi ancaman mala. Upaya Rapid Visual Screening (RVS) harus memahami secara sahih kerentanan struktur bangunan terhadap gempa bumi (Mandela & Wanane,2020). Analisis Kerentanan Bangunan Gedung
Rapid Visual Screening (RVS) ialah metode monitoring secara cepat yg dipelopori sang Federal Emergency Management Agency (FEMA) untuk mendata serta menganalisis kondisi suatu bangunan secara visual yang berpeluang terhadap bahaya gempa bumi. FEMA menyediakan sebuah metodologi mengevaluasi keamanan seismic asal persediaan besar bangunan menggunakan akses minimum ke bangunan, serta menentukan bangunan yang membutuhkan pemeriksaan lebih rinci. Dokumen
FEMA diterbitkan pada Januari 2015 dengan nama FEMA P-154 Edisi Ketiga. Metode ini akan diuji coba buat mengevaluasi bangunan yang berada di kota Pekanbaru yang termasuk daerah gempa dua (Agustin, 2020).
Penulisan proposal tugas akhir ini untuk menganalisis kerentanan bangunan terhadap gempa bumi dengan Rapid Visual Screening (RVS) berdasarkan FEMA P-154 tahun 2015 edisi ketiga. Studi perkara pengamatan bangunan dilakukan pada tiga gedung yaitu tempat kerja Bupati Kampar, kantor BAPPEDA Kabupaten Kampar, dan tempat kerja DPRD Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.Analisis Kerentanan Bangunan Gedung
Konklusi
sesuai dari yang akan terjadi analisa memakai Rapid visual screening of buildings for potential seismic hazards: A Handbook, Third Edition, FEMA P-154, 2015 evaluasi kerentanan bangunan gedung penelitian terhadap gempa bumi bisa disimpulkan menjadi berikut:
1. sesuai hasil evaluasi memakai metode Rapid Visual Screening (RVS), dihasilkan lokasi bangunan yg dianalisis berada pada wilayah menggunakan syarat gempa relatif tinggi (Moderately Seismicity).
dua. Bangunan Gedung kantor Bupati Kampar memiliki nilai S sebesar 2,5. Bangunan Gedung kantor BAPPEDA Kampar memiliki nilai S sebesar 2,3. Bangunan Gedung tempat kerja DPRD Kampar mempunyai nilai S sebanyak 1,3.
3. Bangunan Gedung kantor Bupati Kampar dan tempat kerja BAPPEDA Kampar mempunyai nilai final score yang lebih besar dari dua sehingga bangunan dapat dinyatakan safety terhadap resiko gempa sesuai FEMA P-154. Sedangkan Bangunan Gedung tempat kerja DPRD Kampar mempunyai nilai final score yang lebih mungil asal dua dengan potensi kerentanan sebanyak lima,01%, bisa diartikan lima,01% bangunan tersebut rentan terhadap gempa atau potensi roboh bila terjadi guncangan atau gempa.
4. Parameter Vertical Irregularity, Plan Irregularity serta Soil Type merupakan parameter yang sangat kuat dalam menentukan evaluasi berdasarkan FEMA 154, sebab nilai tadi sebagai faktor nilai pengurang yg dapat menghipnotis taraf resiko kerentanan suatu bangunan terhadap bahaya gempa bumi.
Saran
berdasarkan apa yg diperoleh asal akibat analisis kerentanan bangunan gedung terhadap gempa bumi menggunakan Rapid Visual Screening adapun saran sebagai berikut:
1. Metode RVS dapat dijadikan menjadi langkah awal buat mengetahui kerentanan bangunan terhadap gempa bumi.
2. untuk menaikkan keakuratan akibat metode RVS dalam hal memilih nilai kerentanan bangunan terhadap gempa bumi dan probabilitas keruntuhan dalam analisis lebih lanjut dapat dilakukan menggunakan bantuan software buat menganalisis lebih rinci.
Baca Juga :
Studi Risiko Proyek Konstruksi di Sumatera Barat

