Jembatan rangka baja (steel bridge) ialah suatu konstruksi yg dirancang dari susunan batangbatang baja yg menghasilkan formasi segitiga, dimana setiap pertemuan beberapa batang disambung pada alat rendezvous/simpul menggunakan menggunakan indera penyambung (baut, paku keeling dan las lumer). Jembatan Birandang ialah salah satu jembatan rangka baja di Provinsi Riau dengan panjang bentang 140 m, dibangun berasal dana APBD Provinsi Riau Tahun aturan 2012 sampai 2016 dan pembangunannya dilakukan secara sedikit demi sedikit.Analisis Pembebanan Konstruksi Jembatan
di suatu pekerjaan jembatan rangka baja biasanya enginer dituntut buat menjaga tingkat keamanan, ketenangan, ketika, porto dan energi. pada pelaksanaan pemasangan rangka baja diharapkan ketelitian enginer mengukur beban masing-masing komponen, dikarenakan pemasangannya dilakukan secara bertahap. sehingga buat menjaga keamanan struktur rangka baja saat pemasangan diharapkan analisa pembebanan struktur jembatan baik secara bertahap juga menerus. buat memprediksi, pemodelan serta analisis pembebanan mampu dilakukan menggunakan memakai bantuan software sap2000.
Tujuan berasal penelitian ini artinya buat menganalisis konstruksi rangka baja apabila dilakukan pekerjaannya secara bertahap. pertarungan yang akan dibahas merupakan analisis konstruksi rangka baja apabila pengerjaannya dilakukan secara sedikit demi sedikit (stage). Penelitian ini mempunyai batasan masalahnya antara lain :
a. Tipe pemodelan jembatan rangka baja yg dipergunakan artinya jembatan rangka baja baku PU.
b. Pemodelan dan analisis konstruksi rangka baja menggunakan bantuan software Sap2000.
c. Pemodelan penampang struktur konstruksi jembatan rangka baja tiga dimensi.
d. Pembebanan yg dipergunakan yaitu beban mati (berat sendiri bangunan), beban hidup, beban gempa serta beban angin.
e. Pembebanan buat jembatan rangka baja menggunakan baku SNI.
f. Perbandingan dua model konstruksi jembatan rangka baja
Jembatan Rangka Baja
Jembatan rangka baja (steel bridge) adalah suatu konstruksi yang dibuat dari susunan batangbatang baja yang membuat kumpulan segitiga, dimana setiap rendezvous beberapa btg disambung pada alat pertemuan/simpul dengan menggunakan alat penyambung (baut, paku keling serta las). Jembatan rangka (truss bridges) memiliki tipe yang relatif banyak dan telah berkembang semenjak usang. ada beberapa tipe jembatan rangka (truss bridges) yang bisa digunakan diantaranya yaitu pratt truss, parker pratt truss, baltimore pratt truss, pennsylvania-petit pratt truss, warren truss, subdivided warren truss, howe truss, witchert truss dan cantilever through top truss. Tipe jembatan rangka baja yg umum dipergunakan diindonesia artinya tipe warren. galat satu tipe warren yang diproduksi diindonesia yaitu Transfield (Trans-Bakrie) yg asal asal Australia, Waagner Biro yang asal asal Austria, Callender Hamilton (CH) yg asal berasal Inggris dan standar Dinas Pekerjaan awam (PU). Analisis Pembebanan Konstruksi Jembatan
Pemodelan Konstruksi Secara bertahap
berasal acum penelitian terdahulu, pemodelan konstruksi jembatan rangka baja dilakukan dengan contoh bertahap (stage) dan tak bertahap (konvensional) contoh elemen sampai menggunakan acara aplikasi Sap2000. program tadi dipergunakan buat menganalisis linier dan non linier, statis dan bergerak maju. di penelitian ini, mengunakan data Jembatan Birandang buat permodelan. Total tahapan (stage) buat konstruksi bertahap ialah 3 stage. Analisis dilakukan buat menerima perilaku asal jembatan rangka baja yang diberikan beban. perilaku yg dipandang yaitu gaya momen.Analisis Pembebanan Konstruksi Jembatan
Konsep Analisis Struktur
Konsep-konsep dasar analisis struktur yg dipakai buat identifikasi permodelan adalah deformasi aksial (axial deformation) terjadi dampak gaya aksial P yg bekerja, batang akan mengalami deformasi (perubahan bentuk) aksial dan menyebabkan perpindahan (displacement) berupa translasi searah sumbu batang ( Δ ).
Deformasi lentur (flexural deformation) terjadi akibat momen lentur M yg bekerja, btg akan mengalami deformasi lentur dan menimbulkan perpindahan (displacement) berupa translasi searah tegak lurus sumbu btg ( Δ ) serta rotasi terhadap sumbu yg tegak lurus bidang struktur ( θ ).
Prinsip superposisi hanya terbatas berlakunya pada syarat dimana hubungan antara aksi dengan displacements artinya elastis -linier. impak beberapa pembebanan pada struktur bisa diperoleh menggunakan menjumlahkan efek masing-masing pembebanan yang dikerjakan sendirisendiri secara terpisah.
Pembebanan
pada peraturan pembebanan buat jembatan standar Nasional Indonesia 1725 : 2016 aksi-aksi (beban) digolongkan sesuai Asalnya yaitu:
a. Beban mati
Beban mangkat merupakan semua beban permanen yg berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yg dilihat, termasuk segala unsur. tambahan yg diklaim merupakan satu kesatuan permanen dengannya.
b. Beban hidup
Beban hidup merupakan semua beban yang dari dari berat kendaraan-kendaraan beranjak/lalu lintas dan /atau pejalan kaki yang dianggap bekerja di jembatan.
c. Beban Angin
Beban angin yg diperhitungkan yaitu tekanan angin atas, tekanan angin bawah, tekanan angin di struktur, dan tekanan angin di kendaraan
d. Beban Gempa
Beban gempa diambil menjadi gaya horizontal yang ditentukan sesuai perkalian antara koefisien respons elastic (Csm) dengan berat struktur ekivalen yang kemudian dimodifikasi menggunakan factor modifikasi respons (Rd).Analisis Pembebanan Konstruksi Jembatan
Hasil dan Pembahasan
Analisis Pembebanan Konstruksi Konvensional dan Konstruksi Bertahap (stage)
Analisis pembebanan jembatan rangka baja dengan kontruksi konvensional dilakukan dengan memberikan beban pada model jembatan dan mengkombinasikan beban tersebut untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Analisis pembebanan jembatan rangka baja dengan kontruksi bertahap (stage) dilakukan dengan menggunakan salah satu fitur non-liniear staged construction, yaitu dimana jembatan dirancang bertahap menyesuaikan bentang yang ada dengan total panjang bentang jembatan
140 m. Tahap 1 dimulai dengan bentang 40 m, tahap ke 2 bentang 40 m sedangkan tahap ke 3 yaitu bentang 60 m. Setiap tahapan diberikan beban sesuai dengan beban perhitungan manual.
Analisis konvensional dan bertahap secara otomomatis dihitung melalui program sap2000. Dari hasil pemodelan, pembebanan dan analisis, selanjutnya dilakukan pengumpulan data nilai maksimum dari momen lentur.Analisis Pembebanan Konstruksi Jembatan
Pembahasan secara detail perbandingan nilai momen analisis konstruksi jembatan rangka baja konvensional dan bertahap dijelaskan dengan meninjau masing-masing rangka batang dari model jembatan rangka baja. Skema pembahasan masing-masing batang sesuai grid (baris) ditunjukkan pada Gambar 4.

Hasil perbandingan gaya momen analisis konvensional dan bertahap (stage) dirincikan sesuai jenis rangka batang. Untuk pembahasan nilai perbandingan analisis konvensional dan bertahap (stage) disetiap rangka batang yang jumlah letak rangkanya lebih dari 1, maka dipakai nilai perbandingan yang terbesar untuk mewakili batang yang lainnya.
Gaya Momen Bottom Chord Grid 9
Grafik Gambar 5 adalah grafik persentase perbandingan gaya momen analisis konvensional dengan bertahap rangka Bottom Chord grid 9. Persentase perbandingan gaya momen maksimum pada bentang 0 sampai 40 adalah 1081.324 %. Untuk bentang 40 sampai 100 persentasenya adalah 973.597 %. Sedangkan untuk bentang 100 sampai 140 persentasenya adalah 1081.197 %. Nilai rata-rata persentase perbandingan gaya momen analisis konvensional dengan bertahap rangka Bottom Chord grid 9 adalah 954.698 %.

Kesimpulan
Hasil analisis yang didapatkan dengan menggunakan software elemen hingga, adalah sebagai berikut :
1. Rata-rata persentase perbandingan antara gaya momen analisis konvensional terhadap analisis bertahap (stage) untuk rangka batang Bottom Chord (Grid 9) 954.698 %, Stringer (Grid 5) 1387.597 %, Cross Girder 1175.059 %, Top Chord (Grid 9) 904.422 %, Diagonal (Grid 9) 970.017 %, End Portal 425.477 % dan Top Bracing 405.549 %
2. Perilaku umum gaya dalam pada analisis jembatan konstruksi secara konvensional menghasilkan nilai momen lebih besar, bila dibandingkan dengan analisis jembatan konstruksi secara bertahap (stage).
Daftar Pustaka
- Altunisik A. C, Bayraktar A, Sevim B, Adanur S, Domanic A . 2010. “Construction stage analysis of Komurhan Highway Bridge using time dependent material properties”. Structural Engineering
and Mechanics 36-2 : 207-223. - Asli N, Ahmad B. H.__________. “Analysis and Design of Continuous Prestressed Concrete Bridge based on Construction Sequence”. Universiti Teknologi Malaysia. 204-212.
- BSN. 2005. T-02-2005 tentang “Standar Pembebanan untuk Jembatan”. Jakarta.
BSN. 2005. T-03-2005 tentang “Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan”. Jakarta.
BSN. 2008. SNI 2833:2008 tentang “Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan”. Jakarta.
BSN. 2016. SNI 1725:2016 tentang “Pembebanan Untuk Jembatan”. Jakarta. - Dipohusodo, I. 1994. Struktur Beton Bertulang. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
- Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen PU. 2005. Pedoman 07-BM-2005 tentang “Gambar standar rangka baja bangunan atas jembatan kelas A dan B”. Jakarta.
- Gunaydin M, Adanur S, Altunisik A. C, Sevim B. 2012. “Construction stage analysis of fatih sultan mehmet suspension bridge”. Structural Engineering and Mechanics 42-4 : 489-505.
- Gunaydin M, Adanur S, Altunisik A. C, Sevim B, Turker E. 2014. “Determination of structural behavior of Bosporus suspension bridge considering construction stages and different soil conditions”. Steel and Composite Structures 17-4 : 000-000.
- Hidayat, I. 2011. Analisa Konstruksi Jembatan Cable-Stayed Menggunakan Metode Kantilever (Studi Kasus Jembatan Suramadu). Tesis Program Magister Teknik Sipil. UI: Depok.
- Mahmud, H. M .I., Omar, M.A.I., Noor, M. A. 2010. “Effects of construction sequences on a continuous bridge”. IABSE-JSCE Joint Conference on Advances in Bridge Engineering-II. Bangladesh, 8-10 August 2010.
- Pangestuti, A., Sandy, D.A., Mustholih., . 2015. Jembatan Struktur Rangka Baja (Steel Truss Bridge) Pemodelan Jembatan Rangka “DAM BRIDGE”. Bridge 2-2 : 101-116.
- Schodek, D.L. 1999. Struktur. Edisi Kedua. Erlangga: Jakarta.
- Septiawan H. G, Irawan D. 2013. Desain Jembatan Baru Pengganti Jembatan Kutai Kartanegara dengan Sistem Busur. Jurnal Teknik Sipil POM ITS 1-1 : 1-12.
- Setiawan, A. 2009. Perencanaan Struktur Baja dengan metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-1729-2002). Erlangga: Jakarta.
- Sub Direktorat Teknik Jembatan. 2008. Perkuatan Struktur dan Lantai Jembatan Rangka Baja. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
- Suhendro, B. 2001. Analisis Struktur Metode Matrix. Yogyakarta : Beta Offset
Baca Juga :
Pengertian dan Definisi Volume Pekerjaan